Dari Diskusi Bareng BPK XIV Wilayah Kaltim-Kaltara, “Mengulik” Musik Tradisional dan Modern di Era Kekinian, Ajak Milenial Bentuk Identitas dari Simbol dan Ucapan

NGOBROLIN MUSIK DAN BUDAYA: BPK XIV Wilayah Kaltim Kaltara diskusi bersama musisi dan penggiat seni serta budaya di Samarinda yang dilaksanakan di Good Wuarter, Selasa (7/5/2024).

Linikaltim.id SAMARINDA – Musik sudah jauh berkembang. Beragam aliran hadir meramaikan belantika musik Tanah Air.

Namun, musik juga bisa jadi identitas dari suatu kebudayaan atau daerah, serta media membangun silaturahmi. Dari musik yang dikombinasikan dengan budaya, beragam komunitas bisa berkumpul, menunjukan kreatif dan bertukar ide maupun gagasan.

Bacaan Lainnya

Dialog bertajuk pemajuan kebudayaan “Musik dan Identitas Budaya” diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XIV Kaltim-Kaltara di Good Quarter, Samarinda, kemarin (7/5/2024) lalu. Membahas banyak hal tentang musik dan kebudayaan. Terlebih Bumi Etam bakal bagian dari Ibu Kota Nusantara (IKN). Generasi milineal tentu jadi tantangan, namun punya peran penting dalam menjaga kearifan lokal.

Peserta yang hadir didominasi generasi milineal. Mereka mengeluarkan ide kreatif. Kepekaan mereka bermusik dan berbudaya di era kini, gagasan juga tertuang dalam diskusi tersebut. Seperti yang disampaikan para peserta.

Perwakilan dari Sanggar Musik Panting Tepian Indah mengungkapkan, dasar menjaga kearifan lokal di musik dan kebudayaan ada pada setiap masing-masing orang. Dia menjelentrehkan hal menarik, terkait kebiasaan mayarakat menjawab pantun menggunakan kata “cakep”. “Itu dari Betawi. Bukan berarti tidak boleh menjawab dengan kata itu, lebih bagus punya identitas kebudayaan sendiri,” ucapnya.

Selain itu, musik tradisional saat ini disebutnya minim peminat. Mereka harus jemput bola ke pecinta musik tradisional agar bisa terlasurkan dan terus berkembang.

Sementara itu, Chandra Tatuk, musisi kontemporer asli Kaltim itu menyebut, kemunduran peminat musik tradisional bukan sekadar perkembangan zaman. Dia tak menampik hal itu butuh niat dan kemauan besar dari setiap manusia itu sendiri. Perbedaan bermusik etnik dengan kontemporer itu nyata. Namun, hal itu masih bisa diatasi. Misalnya, perpaduan antara alat musik tradisional dengan kontemporer atau modern bisa dikolaborasikan. “Saya pernah tampil dengan gaya musik seperti itu. Jadi, pada waktu itu saya menyanyikan lagu daerah namun diiringi musik kontemporer dan alat musik tradisional,” ungkap pria jebolan Indonesian Idol tersebut.

Di tanah kelahirannya (Kutai Timur) masih ada orang tua bermain musik tradisional. Biasanya mereka memainkan musik tradisional saat waktu tertentu. Itu membuktikan bahwa musik tradisional masih ada. Namun, para orang tua bingung siapa penerus musik tradisional nantinya. “Jadi sebenarnya memang harus jemput bola, bukan menunggu bola datang,” imbuhnya.

Kepala BPK XIV Kaltim-Kaltara Lestari mengatakan, ide dan keinginan yang disampaikan peserta menandakan saat ini masih ada generasi milineal yang peka terhadap kondisi musik dan identitas budaya lokal. “Banyak yang bertanya minat musik tradisional maupun kontemporer di Samairnda. Itu disebabkan perkembangan zaman, sehingga musik-musik tradisional semakin terdegradasi. Jadi, tujuan kami (BPK) bisa mengangkat musik-musik tradisional itu bisa survive dengan kemasan di kondisi sekarang,” jelasnya.

Selain itu, terkait tentang praktik penggunaan simbol dan kata yang sering diucapkan turut menjadi perhatian khusus. Sebab, warga Kaltim harus bisa menciptakan simbol atau kata sendiri yang menggambarkan identitas budaya daerah. “Seperti jawaban pantun cakep, sebenarnya dari pusat juga sudah memberikan izin jika memang ada kata yang disepakati untuk diganti dengan kata asli daerah. Sehingga, warga Kaltim bisa dikenal dengan identitasnya,” bebernya.

Perempuan yang akrab disapa Tari itu menyindir sedikit terkait penggunaan simbol yang berasal dari negara luar. Seperti swafoto melanbangkan jari yang diartikan perasaan cinta atau kesukaan. “Kenapa tidak menciptakan simbol atau lambang dari budaya kita sendiri, kemudian dijadikan simbol ketika berfoto. Jadi, orang Kaltim semakin dikenal dengan simbol atau gaya yang dipraktikan. Harapanya tentu peran generasi milineal mencetuskan itu, dan disosialisasikan agar identitas budaya Kaltim tetap utuh dan terus berkembang,” tutupnya.