Di Balik Tembok Pesantren: Menyingkap Luka Feodalisme dan Krisis Kesadaran Umat

Hana Athiyyah Rahmah

Oleh: Hana Athiyyah Rahmah, Mahasiswa Fisip Unmul

PONDOK Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama merupakan salah satu sumber pendidikan di Indonesia yang memiliki andil besar dalam mendidik generasi penerus. Secara historis pondok pesantren telah banyak melahirkan para pemikir hebat yang turut membangun bangsa dan berdedikasi dalam menuntaskan penjajahan. Bukan hanya dimaknai sebagai tempat untuk pemenuhan kebutuhan spiritual, pondok pesantren turut mengajarkan ilmu dunia sebagai bekal para santrinya dalam melanjutkan lini kehidupan.

Bacaan Lainnya

Menurut data resmi Kementerian Agama (kemenag) per tahun akademik 2023/2024, tercatat  sekitar 39.551 pondok pesantren aktif di Indonesia, serta dengan jumlah santri yang mencapai kurang lebih 4,9 juta jiwa.  Sementara laporan lain menyebutkan bahwa untuk periode 2024/2025 jumlah lembaga pesantren bahkan mencapai 42.433 unit. Fakta ini cukup terang menjabarkan kontribusi Pondok Pesantren dalam mendidik sumber daya manusia Indonesia.

Namun, akhir-akhir ini ketika mendengar “pondok pesantren” perasaan yang timbul tak jarang membuat hati tersayat. Bukan mendiskreditkan semua pesantren, tetapi stigma masyarakat tidak sepenuhnya salah. Saat ini dapat  disimpulkan bahwa reputasi pesantren sedang terancam.

Bukan tanpa sebab, tetapi perlu dipahami masyarakat hari ini sudah sangat kritis dalam menilai berita dan praktik lembaga pendidikan keagamaan yang muncul di negeri ini. Bersembunyi dibalik label “budaya” atau “tradisi pesantren” tidak otomatis membenarkan praktik feodal oleh oknum yang mengatasnamakan guru.

Pada dasarnya derajat semua manusia adalah sama, tidak ada yang secara moral lebih mulia daripada yang lain, sehingga bersikap merendah secara ekstrem kepada sesama manusia (Seperti menghambakan) adalah keliru. Bila berbicara adab maka idealnya pesantren mengajarkan penghargaan terhadap sesama, tanpa memosisikan guru sebagai figur yang tidak boleh dikritik ataupun dipertanyakan.

Contoh relevan bagi umat Islam telah lama di ajarkan oleh Rasulullah saw bahwa menghormati guru adalah kewajiban yang ditekankan dalam Islam, tetapi beliau melarang untuk menunduk atau membungkuk kepada siapapun, karena penghormatan yang khusus hanya diperuntukkan kepada Sang Pencipta.

Cukup Berjabat tangan atau salam adalah bentuk dari adab yang seimbang dan manusiawi. Menutup mata dari gejolak masyarakat hari ini tidak membantu negeri ini tumbuh menjadi baik, yang ada malahan semakin membenarkan dan memvalidasi penyimpangan, sehingga akar masalah baru terus tumbuh.

Kekeliruan persepsi umat hari ini adalah menganggap bahwa pesantren adalah sebuah kesucian mutlak atau guru adalah representatif dari kemuliaan. Padahal, kedua hal tersebut perlu dilihat secara proporsionalnya. Kesucian yang mutlak adalah agama itu sendiri, bukan figur dari agama tersebut. Karena guru juga seorang manusia yang bisa keliru.

Sudah saatnya pondok pesantren berbenah dan merapikan lagi barisan akidah, memperjelas arah tujuan, dan memastikan bahwa institusi ini kembali menjadi tempat yang melahirkan pemimpin umat dengan mulai menyadari, dan berani untuk melawan segala bentuk ketidakbenaran.

Dalam konteks ini, program nasional seperti program “Kemandirian Pesantren” menjadi hal yang relevan, kemenag menargetkan pada akhir 2024 sekitar 3.600 pesantren yang mendapatkan dukungan afirmasi, meskipun hingga Agustus 2024 baru kurang lebih 2.000 lembaga yang terlayani. Dalam hal ini negara pun memiliki andil besar dengan turut memperluas akses pendidikan bagi seluruh rakyatnya.

Dengan memperluas akses maka akan tumbuh manusia-manusia kritis yang pantang dengan pembodohan. Namun, arah pemikiran kembali kepada masyarakat sendiri apakah masih ingin mempercayai secara buta atau memilih berpikir kritis (tauhid secara sadar). Karena solusinya bukan dengan menyalahkan pihak yang menentang, tetapi dengan muhasabah diri (introspeksi diri) apakah sudah benar langkah yang diambil dan dipercayai.

Hari ini umat sedang kebingungan, bingung dengan kepalsuan yang dibalut dengan jubah  agama, resah dengan kebodohan yang enggan lepas dari diri yang merasa benar. Mengutip dari perkataan seorang guru yang saya hormati dalam closing statement beliau:

“Kesadaran tidak tumbuh dari ceramah atau nasihat semata, tetapi dari benturan ide dan keberanian mengusik zona nyaman. Terkadang memang harus ada yang terbakar dahulu supaya cahaya bisa terlihat”.

Pada akhirnya hakikat pesantren sejatinya bukanlah sekedar tembok megah yang berdiri di atas tanah, melainkan cahaya yang tumbuh bagi para pencari ilmu. Sudah waktunya pesantren menyalakan kembali lentera keikhlasan bukan dengan menolak kritik, tetapi menyambut dengan semangat memperbaiki diri.

Pesantren perlu membangun sistem pengawasan internal yang transparan dan profesional, untuk memastikan tidak adanya penyimpangan, kekerasan, atau tindakan feodal yang berlindung di balik dalih tradisi. Pendidikan di pesantren perlu berkomitmen dalam transformasi menjadi lebih terbuka terhadap ilmu modern, tentu saja tidak melupakan nilai keislaman yang ada. Integrasi kurikulum umum menjadi landasan para santri dalam menghadapi dunia modern tanpa menghilangkan akar spiritualnya.

Perlu membiasakan dan membangun budaya dialog dan kritik di lingkungan pesantren. Santri dididik dan diberikan ruang untuk bertanya, berpendapat, bahkan mengoreksi secara santun. Dengan begitu, keberanian berdialog lahir dari pribadi para santri, bukan hanya menerima dogma kaku. Sebab pada akhirnya, pesantren yang berani bercermin adalah pesantren yang sedang menapaki jalan pembenahan diri.

Ketika ilmu berpadu dengan nurani, dan adab berjalan seiring dengan nalar, maka lahirlah generasi yang tidak hanya patuh, tetapi juga paham, tidak hanya taat, tetapi juga sadar. Dari langkah inilah reputasi pesantren akan kembali bersinar, karena kesadaran untuk terus belajar, berbenah, dan kembali pada tujuan awal pondok pesantren yaitu, mencerdaskan calon penerus bangsa.

Daftar Pustaka

Antara News. “KPI Hentikan Sementara Tayangan Xpose Uncensored Trans7.” 2025. https://jambi.antaranews.com/video/5179105/kpi-hentikan-sementara-tayangan-xpose-uncensored-trans-7.

Atsar.id. “Hukum Membungkuk dan Menunduk untuk Menghormati.” 2017. https://www.atsar.id/2017/07/hukum-membungkuk-menunduk-untuk-menghormati.html.

Bimbingan Islam. “Hukum Menganggukkan dan Menundukkan Kepala untuk Menghormati.” n.d. https://bimbinganislam.com/hukum-menganggukkan-dan-menundukkan-kepala-untuk-menghormati/.

Detik.com. “Benarkah Haram Membungkukkan Tubuh saat Beri Salam?” 2024. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6918214/benarkah-haram-membungkukkan-tubuh-saat-beri-salam.

Detik News. “Audiensi Bersama, Trans7 Akui Lalai dan Minta Maaf ke Alumni Ponpes Lirboyo.” 2025. https://news.detik.com/berita/d-8159936/audiensi-bersama-trans7-akui-lalai-dan-minta-maaf-ke-alumni-ponpes-lirboyo.

Harian Massa. “Bolehkah Membungkukkan Badan dan Mencium Tangan Kiai? Ikuti Contoh Rasulullah.” n.d. https://www.harianmassa.id/ragam/2716083673/bolehkah-membungkukkan-badan-dan-mencium-tangan-kiai-ikuti-contoh-rasulullah.

Kementerian Agama Republik Indonesia. “Pesantren Dulu, Kini, dan Mendatang.” 2023. https://kemenag.go.id/opini/pesantren-dulu-kini-dan-mendatang-ft7l9d.

———. “Sudah Saatnya Diwujudkan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren.” 2024. https://kemenag.go.id/opini/sudah-saatnya-diwujudkan-direktorat-jenderal-pondok-pesantren-lnCxK.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). “KPI Vonis Xpose Uncensored Trans7 Sanksi Penghentian.” 2025. https://kpi.go.id/id/umum/38-dalam-negeri/37916-kpi-vonis-xpose-uncersored-trans7-sanksi-penghentian.

Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Warganet Serukan Boikot Trans7 Imbas Singgung Pesantren Lirboyo dan Pengasuhnya KH Anwar Manshur.” 2025. https://mui.or.id/baca/berita/warganet-serukan-boikot-trans7-imbas-singgung-pesantren-lirboyo-dan-pengasuhnya-kh-anwar-manshur.

Tempo.co. “Tradisi Pesantren dan Penghormatan Santri.” 2025. https://www.tempo.co/politik/trans7-tradisi-pesantren-penghormatan-santri-2080149.

Tirto.id. “Trans7 Jamin Sudah Putus Kerja Sama dengan PH Xpose Uncensored.” 2025. https://tirto.id/trans7-jamin-sudah-putus-kerja-sama-dengan-ph-xpose-uncensored-hjPw.

Warta Kota. “Trans7 Pecat Pegawai Imbas Konten yang Dikecam Santri dan Kiai.” 2025. https://wartakota.tribunnews.com/news/871072/trans7-pecat-pegawai-imbas-konten-yang-dikecam-santri-dan-kyai.