Pemkot Samarinda Siapkan Polder 70 Hektare di Pampang untuk Pengendalian Banjir

MENGUNGSI: Sejumlah warga yang terdampak banjir cukup dalam harus meninggalkan huniannya sementara lantaran banjir cukup dalam melanda puluhan titik. (Linikaltim.id/Pep)
Banjir melanda Samarinda di musim penghujan. (Foto dok.)

Linikaltim.id. SAMARINDA. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan langkah jangka panjang dan pendek dalam penanganan banjir.

Salah satu program jangka panjang yang disiapkan yakni pembangunan polder seluas sekitar 70 hektare (ha) di kawasan Pampang. Untuk jangka pendek, Pemkot mengatur jadwal normalisasi drainase di berbagai titik.

Bacaan Lainnya

Asisten II Sekretaris Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan konsep penanganan banjir skala besar sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir melalui sistem polder.

Asisten II Sekretaris Kota Samarinda, Marnabas Patiroy. (Foto : Eko Setyo)

“Kalau berbicara penanganan banjir secara keseluruhan, sebenarnya program ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Dalam skala besar, konsepnya menggunakan sistem polder seperti yang ada di Bengkuring dan rencana di kawasan Pampang,” kata Marnabas Patiroy, di Balaikota Samarinda, Selasa (12/05/2026).

Menurutnya, polder di Pampang nantinya akan menjadi salah satu tampungan utama untuk mengendalikan debit air dari kawasan hulu sebelum masuk ke wilayah permukiman.

“Untuk Pampang sendiri, rencananya akan dibuat polder cukup besar sekitar 70 hektare. Fungsi polder ini untuk menahan debit air dari wilayah atas sebelum dialirkan ke tampungan lainnya,” jelasnya.

Selain pembangunan baru, Pemkot juga akan meningkatkan dan merawat kapasitas polder yang sudah ada agar tetap optimal saat musim hujan tiba.

“Ke depan, polder-polder yang ada juga akan ditingkatkan kapasitasnya. Jangan sampai saat musim kemarau polder tetap penuh air, sehingga ketika hujan datang daya tampungnya tidak maksimal lagi,” katanya.

Ia menilai sistem pengelolaan air di polder harus berjalan aktif agar mampu mengurangi risiko banjir di kawasan perkotaan.

“Idealnya, setelah hujan selesai, air dari polder dipompa keluar menuju Sungai Karang Mumus agar kapasitas tampungan kembali tersedia saat hujan berikutnya datang,” ungkapnya.

Marnabas menegaskan, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan infrastruktur besar dan pengerjaan bertahap.

Karena itu, Pemkot terus menyusun strategi berkelanjutan agar genangan di Samarinda dapat berkurang dari tahun ke tahun. (*)

Pos terkait