Linikaltim.id. SAMARINDA. Musim kemarau yang berkepanjangan mulai mengancam lahan persawahan di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. Sekitar 50 hektare (ha) sawah terancam gagal panen apabila hujan tidak turun dalam satu bulan ke depan.
Ketua Kelompok Tani Tunas Muda Lempake, Sabran, mengatakan kondisi sawah saat ini semakin memprihatinkan. Retakan tanah di sejumlah petak sawah sudah mencapai kedalaman sekitar 20 – 25 sentimeter akibat kekeringan yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Menurut Sabran, tanaman padi saat ini memasuki fase bunting atau mulai berisi, sehingga sangat membutuhkan pasokan air.
“Kalau sebulan ke depan tidak ada hujan, kemungkinan besar gagal panen. Sekarang tanah sudah pecah sampai 20 sampai 25 sentimeter. Padi memang hijau (tumbuhnya), tapi sebenarnya sudah kekurangan air,” kata Ketua Kelompok Tani Tunas Muda Lempake, Sabran, saat di temui di Betapus, Kelurahan Lempake beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, lahan persawahan dari kawasan hulu hingga hilir diperkirakan mencapai sekitar 50 ha. Namun kondisi paling parah dialami petani yang berada di bagian hilir karena pasokan air dari bendungan tidak lagi menjangkau lahan mereka.
Sabran menyebut sawah miliknya berada sekitar tiga hingga empat kilometer dari bendungan. Jarak tersebut membuat air semakin berkurang sebelum sampai ke petak sawah terakhir.
“Yang dekat bendungan mungkin masih bisa panen karena dapat air lebih dulu. Tapi kami yang di belakang hampir tidak kebagian air,” katanya.
Selama ini, kata Sabran, petani di Betapus hanya mengandalkan bendungan sebagai sumber irigasi. Ketika debit bendungan menurun akibat kemarau, tidak ada sumber air alternatif yang bisa dimanfaatkan.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan musim tanam tahun ini.
Menurutnya, jika kondisi terus dibiarkan, puluhan hektare sawah di Lempake berpotensi gagal panen secara bersamaan.
“Kami hanya berharap ada solusi cepat. Kalau tidak ada hujan dan air bendungan tidak sampai ke sawah, hasil panen tahun ini bisa hilang,” tutup Sabran. (*)






