Kerap Hadir saat 17an, Pahami Arti Tumpeng Penuh Filosofi Hidup

Linikaltim.id Sering dilombakan saat 17an tumpeng bukan sekadar sajian, tapi sudah termasuk warisan budaya Indonesia.

Tak banyak yang tau, tumpeng merupakan singkatan dari yen metu kudi sing mempeng yang artinya kalau keluar harus sungguh-sungguh (mencari rejeki,Red). Tumpeng memang syarat dengan makna filosofis kehidupan dan simbolisme dalam budaya Jawa. 

Bacaan Lainnya

Dahulu saat penyebaran agama Hindu, masyarakat di pulau jawa mempercayai bahwa gunung adalah tempat para dewa dewi. Sehingga gunung dianggap tempat yang suci. Saat itu manusia memaknai konsep ketuhanan sebagai sesuatu besar dan tinggi. Di masa itu lah, tumpeng dibuat dengan bentuk mengerucut ke atas menyerupai Gunung Mahameru.

Sejak Islam mulai menyebar, makna tumpeng bergeser. Jika tadinya untuk memuliakan gunung, menjadi bentuk rasa syukur terhadap Tuhan.

Tumpeng yang menyerupai gunung  menggambarkan kemakmuran sejati, dan air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. 

Tidak hanya bentuknya, berbagai lauknya juga memiliki makna. Telur rebus dianggap kebulatan tekat, daging ayam dianggap kepatuhan kepada Tuhan, ikan asin menggambarkan rasa gotong royong, Sayurannya diartikan sebagai rejeki yang berlimpah ruah. Untuk urap disimbolkan kedamaian, kesuburan dan keyakinan.

Sehingga nasi tumpeng juga dapat melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala keberuntungan yang telah diberikan. Disajikan dalam acara-acara yang merayakan keberhasilan dan kesuksesan termasuk saat perayaan kemerdekaan. Bahkan, dipercaya dapat menarik keberhasilan dan kesuksesan bagi orang yang menyajikannya.