Kualitas Udara Samarinda Memburuk, Sekolah Beralih ke Pembelajaran Daring

Foto ilustrasi by canva.

Linikaltim.id. SAMARINDA – Kualitas udara di Samarinda memburuk pada Rabu (16/9/2026). Kabut pekat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kualitas udara masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Data pemantauan pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di sejumlah lokasi Samarinda cukup tinggi. Di kawasan APT Pranoto, konsentrasi PM2.5 dilaporkan mencapai 210,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 16.00 Wita, sedangkan kawasan Taman Lansia mencapai 124 mikrogram per meter kubik pada waktu yang sama.

Bacaan Lainnya

Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda merekomendasikan agar kegiatan pembelajaran di wilayah terdampak dialihkan sementara ke sistem dalam jaringan (daring).

Rekomendasi tersebut tertuang dalam surat edaran Dinkes Samarinda Nomor400.7.23/7450/100.02 tertanggal 16 September 2026. Berisi tentang imbauan Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) 17- 19 September.

Kebijakan PJJ tersebut mempertimbangkan perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), data kabut asap dari Dinas Lingkungan Hidup, BMKG dan BPBD, serta rekomendasi Dinas Kesehatan.

Dinkes Samarinda menegaskan pembelajaran daring bersifat sementara dan situasional. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara, kondisi kabut asap, jarak pandang serta hasil pemantauan dan evaluasi lintas sektor.

Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, khususnya anak-anak, lansia dan kelompok rentan, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. (*)

Pos terkait