Muara Muntai Ilir Bangun Budaya Literasi Keagamaan Lewat Gerakan Etam Mengaji

Linikaltim.id. MUARA MUNTAI – Upaya membangun budaya literasi keagamaan di tingkat desa mulai menunjukkan langkah konkret di Muara Muntai Ilir. Pemerintah desa menempatkan masyarakat sebagai aktor utama melalui pelaksanaan Gerakan Etam Mengaji (GEMA), sebuah program yang dirancang bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk kebiasaan belajar agama secara berkelanjutan.

Berbeda dari program keagamaan pada umumnya, GEMA dikemas dalam bentuk majelis rutin mingguan yang digelar di masing-masing RT dan rumah ibadah. Format ini memungkinkan partisipasi masyarakat yang lebih inklusif sambil memperkuat interaksi sosial antartetangga.

Bacaan Lainnya

“Kami sudah mulai menjalankan program ini di dua RT dari tujuh RT yang ada dan berencana memperluas program tersebut ke seluruh RT yang ada di desa ini,” ujar Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Arifandin Nur, beberapa waktu lalu.

Target besar yang ingin dicapai Pemdes adalah membangun kawasan bebas huruf hijaiah. Artinya, setiap warga tanpa melihat usia maupun latar belakang minimal memiliki kemampuan dasar membaca Iqra.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Pemdes juga menyiapkan pelatihan rutin bagi para guru ngaji agar mereka lebih siap menghadapi kebutuhan belajar di lapangan.

“Fokus program ini adalah kepada seluruh elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua,” tambah Arifandin.

Pendekatan berbasis partisipasi menjadi kunci utama. Saat ini Pemdes tengah melakukan pendataan kemampuan mengaji setiap warga, yang kemudian dipetakan menjadi klaster pembelajaran.

Dengan demikian, metode pengajaran dapat disesuaikan sehingga proses belajar berjalan lebih efektif dan tidak membebani peserta.

Inisiatif ini sekaligus mempertegas arah pembangunan desa yang menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai pondasi utama.

Dengan budaya mengaji yang tumbuh dari tingkat RT, Pemdes berharap tercipta masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki pemahaman keagamaan yang progresif dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

GEMA diharapkan menjadi model gerakan keagamaan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain, sekaligus menunjukkan bahwa literasi agama dapat dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat. (Adv/DPMD Kukar)

Pos terkait