Linikaltim.id. SAMARINDA. Warga di kawasan Tanah Merah kembali mengeluhkan kerusakan saluran irigasi yang menyebabkan banjir ketika hujan deras. Kondisi ini tak hanya menggenangi pemukiman, tetapi juga membuat lumpur meluap hingga menutupi badan jalan.
Warga dari sejumlah RT di kawasan Jalan Merbabu, Kelurahan Tanah Merah mengungkapkan bahwa kerusakan saluran irigasi tersebut sudah berlangsung lama.
Irigasi yang semula berfungsi mengalirkan air kini justru menjadi sumber genangan karena pendangkalan dan kerusakan struktur. “Kalau tidak segera dinormalisasi, lumpur naik ke badan jalan,” ungkap Madi, warga sekitar.
Tak hanya itu, beberapa titik irigasi bahkan disebut pernah putus dan tidak pernah tersambung kembali dengan baik. Hal ini menyebabkan aliran air terhambat dan memicu banjir lebih cepat saat intensitas hujan meningkat.
Bahkan, minimnya penerangan jalan juga menambah risiko di kawasan tersebut. Saat malam, genangan air dan jalan yang gelap membuat warga sulit beraktivitas dan rawan kecelakaan. Kondisi ini diperparah dengan beberapa gang yang belum dicor dan paret yang tidak lagi optimal mengalirkan air.
Menanggapi keluhan itu, Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Arie Wibowo, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melakukan langkah cepat.
Ia menilai perbaikan irigasi merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa menunggu proses pengerjaan reguler.
“Masalah ini menyangkut keselamatan warga. Pemerintah harus hadir lebih cepat,” tegas politikus Partai Golongan Karya (Golkar) itu, kemarin.
Arie mengatakan langkah awal yang bisa dilakukan adalah pengecekan langsung oleh dinas teknis untuk menentukan lokasi yang membutuhkan normalisasi.
Jika diperlukan, pemerintah menurutnya dapat menurunkan alat berat sebelum anggaran perubahan tahun berikutnya disahkan.
“Kalau menunggu aturan ini akan lama, selepas ini kami akan kerahkan escavator secara mandiri,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah menata ulang sistem drainase kawasan Tanah Merah agar air dapat mengalir lebih efektif. Menurutnya, solusi tambal-sulam tidak akan menyelesaikan masalah banjir tahunan yang terus menghantui warga.
Selain itu, Arie meminta peningkatan LPJU di sejumlah titik serta percepatan pengecoran gang yang selama ini menjadi keluhan warga. Ia menegaskan akan mengawal seluruh isu tersebut agar masuk dalam perencanaan pembangunan 2026.
“Banyaknya keluhan terkait drainase ini sudah kami laporkan dan masukan di tahun depan, meski ada pemangkasan, aspirasi rakyat akan kita petakan skala prioritasnya,” tutupnya. (adv/dprdsmr)

