Bendungan Benanga Terlihat Kering Tapi Masih Aman untuk Pasokan Kebutuhan

Kondisi Bendungan Benanga saat musim hujan. (Foto dok.)

Linikaltim.id. SAMARINDA – Kondisi tampungan Bendungan Benanga atau Bendungan Lempake di Samarinda terlihat menyusut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan air baku dan kebutuhan irigasi.

Pantauan Linikaltim.id per Jumat (21/8/2026) kondisi debit air hampir tak terlihat. Sungai di bawah bendungan juga kering, hingga terlihat dasar sungai.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan keterangan resmi Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, Bendungan Lempake memiliki fungsi strategis untuk penyediaan air baku, irigasi sekaligus pengendalian banjir.

Kondisi kekeringan tersebut terjadi ketika Samarinda dan sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi periode kemarau.

Sebelumnya, BMKG Samarinda memprediksi fenomena El Nino mulai menguat pada Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering, sehingga meningkatkan risiko berkurangnya debit sungai dan sumber air.
Meski demikian,

Masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa Bendungan Benanga kehabisan air.

Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan pihaknya masih melakukan pengaturan cadangan air di sejumlah bendungan agar dapat digunakan sesuai kebutuhan prioritas.

“Ini masih cukup dan aman,” ujar Andri saat menjelaskan kondisi ketersediaan air baku di tengah kemarau, seperti dikutip detikKalimantan.

Menurut Andri, Bendungan Lempake merupakan salah satu sumber air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat Samarinda.

Kapasitas Bendungan Lempake disebut sekitar 900 ribu meter kubik.  “PDAM Samarinda itu juga mendapatkan air dari kami, dari Bendungan Lempake. Kapasitasnya 900.000 meter kubik,” kata Andri.

BWS juga memastikan cadangan air dari sejumlah bendungan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain dalam kondisi darurat.

Di tengah meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan, BWS Kalimantan IV bahkan telah beberapa kali membantu BPBD dan Manggala Agni menyediakan air untuk pemadaman karhutla.

Data hidrologi BWS Kalimantan IV juga menunjukkan sejumlah wilayah Kaltim mengalami periode tanpa hujan. Sistem Informasi Hidrologi dan Kualitas Air (SIHKA) BWS mencatat Pos Curah Hujan Pamaluang berada pada angka 0 milimeter per hari pada sejumlah hari pemantauan Agustus 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Bendungan Benanga tidak hanya berfungsi sebagai sumber air baku. Infrastruktur ini juga menopang sistem irigasi pertanian di kawasan Lempake.

Sebagai gambaran, pada musim kemarau 2023, pengelola Bendungan Benanga mencatat tinggi muka air tampungan berada pada 7,05 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan volume sekitar 273.600 meter kubik. Saat itu debit pengambilan untuk kebutuhan PDAM rata-rata mencapai 170 liter per detik, sementara sistem irigasi Bendungan Lempake melayani sekitar 230,84 hektare sawah dari luas potensial 483,72 hektare.

Namun, angka tersebut merupakan data tahun 2023 dan tidak dapat dijadikan sebagai angka kondisi Bendungan Benanga pada Agustus 2026. (*)