Linikaltim.id SEBIJI gol dari titik putih di menit ke-77 jadi petaka bagi Borneo FC dalam lawatan leg pertama Championship Series kontra Madura United ada Rabu (15/52024) malam.
Namun, peluang ke grand final Liga 1 masih terbuka, jika Borneo mampu mengalahkan Madura di Batakan, Balikpapan 19 Mei nanti.
Menghadapi Madura United, anak-anak Samarinda tampak kesulitan di babak pertama. Laskar Sapi Kerab (julukan Madura United) terus menerus menggempur lini pertahanan Pesut Etam. Namun, penampilan gemilang Angga Saputro di bawah mistar beberapa kali mampu menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.
Perubahan strategi pun dijalankan Pesut Etam memasuki paruh kedua pertandingan. Borneo FC terlihat mampu keluar dari tekanan dan bisa memberikan ancaman bagi tuan rumah. Bencana bagi tim tamu, sebuah akselerasi dari Afrisal membuat Taufani melakukan pelanggaran di kotak penalti. Wasit Thoriq Alkatiri yang memimpin jalannya duel ini pun terlihat berdiskusi dengan pengawas VAR (video assistant referee) untuk selanjutnya memberikan hadiah penalti bagi tuan rumah. Hugo Gomes yang ditunjuk mampu mengecoh Angga Saputro dan Madura memimpin 1-0.
Di menit tersisa, Pesut Etam mencoba menekan. Namun disiplinnya lini belakang lawan, membuat upaya itu tak membuahkan hasil. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
“Madura tim yang kuat, mereka nyaris tak memberi kami ruang di babak pertama. Tapi, di babak kedua kami mampu mengontrol jalannya pertandingan. Sayang, ada penalti itu,” pelatih Borneo FC Pieter Huistra mengomentari hasil negatif ini.
Terkait penggunaan VAR di laga kali ini, Huistra tampak memberikan sindiran. Ia merasa wasit tak sepenuhnya memeriksa video rekaman untuk memutuskan adanya sebuah pelanggaran. Walau sang pengadil mengaku sudah mengeceknya dua atau tiga kali.
“Saya tak tahu apa artinya. Tapi, kalian sebagai jurnalis, coba tanyakan kepada wasit berapa kali mereka mengeceknya,” pungkas Huistra.






