Linikaltim.id. SAMARINDA. Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda menyoroti sistem digital dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dinilai belum berjalan secara optimal. Pasalnya, penentuan jarak domisili calon peserta didik menuju sekolah tujuan ternyata masih dilakukan secara manual oleh operator sekolah.
Temuan tersebut terungkap saat Komisi I menggelar rapat evaluasi bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda Senin (06/07/2026).
Dalam rapat itu, anggota Komisi I DPRD Samarinda Ronal Stephen Lonteng, mempertanyakan sejauh mana keterlibatan Diskominfo dalam sistem SPMB. Khususnya terkait mekanisme penentuan domisili calon siswa.
Ronal awalnya mengira sistem yang digunakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sudah mampu membaca lokasi atau jarak secara otomatis melalui aplikasi digital. Namun penjelasan dari Diskominfo, diketahui proses tersebut masih bergantung pada input data yang dilakukan operator sekolah.
“Tadi saya menanyakan apakah Diskominfo memiliki peran dalam pengaturan jarak atau domisili pada SPMB. Setelah dijelaskan, ternyata mereka hanya menampung informasi yang sudah diinput dari sekolah,” kata Ronal Stephen Lonteng, diwawancara usai hearing.
Ia menjelaskan, alamat rumah calon peserta didik terlebih dahulu dimasukkan secara manual oleh operator sekolah ke dalam sistem. Setelah data tersebut diinput, barulah informasi diteruskan dan dapat diakses melalui sistem yang dikelola Diskominfo.
Menurut Ronal, mekanisme tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pada sistem SPMB belum sepenuhnya berjalan. Padahal, di era pelayanan berbasis teknologi saat ini, proses penentuan jarak seharusnya dapat dilakukan secara otomatis melalui sistem yang terintegrasi.
“Kalau memang sudah berbasis digital, harusnya sistem bisa membaca sendiri titik lokasi rumah dengan sekolah tujuan. Jangan lagi bergantung pada proses manual yang dilakukan operator sekolah,” katanya.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menilai sistem yang masih mengandalkan proses manual berpotensi menimbulkan kesalahan penginputan data, sekaligus membuka ruang munculnya persoalan saat proses penerimaan peserta didik berlangsung. (adv/dprdsmr)


