Keunikan Kain Salambar dari Samboja Barat yang Menjadi Motor Pemberdayaan Perempuan

Ketua TP PKK Kabupaten Kutai Kartanegara, Andi Deezca Pravidhia Aulia saat menengok produk kain salambar di Salok Darat Samboja Barat

Linikaltim.id. SAMBOJA — Kain Salambar semakin menegaskan diri sebagai salah satu karya ekonomi kreatif patut diperhatikan dari Kalimantan Timur. Mengadopsi teknik pembuatan seperti kain Sasirangan yang identik dengan Kalimantan Selatan, Salambar tampil dengan sentuhan berbeda lewat motif khas Kalimantan Timur, menjadikannya produk tekstil yang merepresentasikan identitas budaya daerah.

Berasal dari Kelurahan Salok Api Darat, Kecamatan Samboja Barat, kain Salambar dibuat dengan memberdayakan kaum ibu berpenghasilan rendah. Pembuatan kain dengan teknik jelujur yang dikerjakan seluruhnya secara tradisional. Pewarna alami dari buah karamunting hingga kayu ulin digunakan untuk menghasilkan warna kuat namun tetap ramah lingkungan. Kehadiran Salambar menambah daftar kerajinan unggulan di Kukar yang memadukan nilai budaya dengan kualitas artistik.

Bacaan Lainnya

“Kain Salambar kami buat dengan motif khas daerah Kaltim, seperti akar kayu ulin, tameng, daun ulin dan pembuatannya dengan memanfaatkan alam yang tersedia di sekitar kita,” ujar Ninik Lestari, penggiat kain Salambar.

Berproduksi sejak 11 Februari 2025 silam, kain Salambar ternyata banyak peminat dan aneka ragam produknya cepat berkembang. Saat ini, selendang tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) kain selambar dijual Rp250 ribu hingga Rp350 ribu. Ada pula kain katun Selambar dua meter panjangnya dijual Rp400 ribu sampai Rp800 ribu dan kain katun sutra Selambar dipatok harga Rp 750 ribu hingga Rp800 ribu.

“Kain Salambar sangat banyak peminatnya, Istri dari Wakil Presiden RI pernah membeli ketika kami ikut serta pameran di Ibu Kota Nusantara acara Dekranasda,” kata Ninik.

Selain itu, pemasaran kain Salambar pada Pameran HKG PKK ke-53 Kukar di Muara Badak semakin menguatkan optimisme tersebut. Dalam satu hari pameran, penjualan Salambar menembus Rp 4 juta, capaian yang dinilai sangat menggembirakan mengingat pengembangan produk baru dimulai pada Februari 2025.

Pengembangan kain Salambar kini masuk dalam agenda prioritas pemberdayaan masyarakat tingkat kecamatan. Tim Penggerak PKK merencanakan pelatihan lanjutan, mulai dari penguatan desain motif bernuansa Kalimantan Timur hingga digitalisasi pemasaran bagi kader UMKM desa. Apalagi, kain Salembar telah meraih juara I Olah Khas Daerah Teknologi Tepat Guna Kukar 2025 digelar DPMD Kukar.

“Kami berharap mendapat dukungan dari pemerintah seperti fasiltas untuk peningkatan kualitas produk melalui pelatihan-pelatihan, menggunakan produk kami untuk memperkenalkan kain Salambar dan mencintai produk lokal,” jelas Ninik.

Kain Salambar bukan hanya menampilkan motif khas Kalimantan Timur, tetapi juga membawa pesan pelestarian tradisi lokal yang kini diwujudkan dalam bentuk produk modern. Dengan tren pakaian etnik yang terus tumbuh di pasar nasional, peluang bagi Salambar untuk memasuki pasar lebih luas dinilai terbuka lebar.

Dengan semangat kolektif masyarakat desa dan dukungan berjenjang dari pemerintah daerah, Kecamatan Samboja Barat menargetkan diri menjadi sentra kerajinan tekstil lokal yang mampu bersaing di tingkat regional hingga nasional.

Jika langkah ini konsisten, Kain Salambar berpotensi menjadi ikon baru Kalimantan Timur sekaligus contoh nyata bagaimana budaya, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat desa dapat menyatu dan menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan. (Adv/DPMD Kukar)