Banjir Samarinda Paling Tragis di 2025, Empat Korban Longsor Meninggal

Tim evakuasi korban tertimbun tanah longsor saat mendiskusikan lanjutan proses pencarian korban pada Senin (12/5/2025) sore jelang malam. (Foto : Eko Setyo).

Linikaltim.id. SAMARINDA. Proses evakuasi korban tanah longsor yang terjadi di kawasan Gang Bulu Tangkis, Belimau, Kelurahan Lempake, Samarinda, terus berlangsung dengan penuh kehati-hatian. Hujan deras sejak subh Senin (12/5/2025) kali ini membuat hampir seluruh ruas jalan di Samarinda kebanjiran. Sementara di Lempake, banyak rumah rusak dan hancur terkena tanah longsor.

Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas bekerja dengan banyak perhitungan. Salah satunya, mempertimbangkan keutuhan jenazah.

Bacaan Lainnya

Koordinator SAR Samarinda, Mardi Sianturi, mengungkapkan bahwa proses evakuasi menghadapi banyak tantangan, terutama karena kondisi tanah yang sangat labil, posisi lereng, juga licin.

“Tanah terus bergerak, sehingga kami harus ekstra hati-hati. Risiko untuk tim penyelamat sangat tinggi,” kata Mardi Sianturi ditemui di tempat kejadian, Senin (12/5/2025) jelang malam hari.

Oleh karena itu, evakuasi dilakukan secara bertahap dan dengan strategi yang cermat. Tim awalnya menurunkan alat berat berukuran kecil terlebih dahulu agar tidak memicu pergerakan tanah yang lebih besar.

Setelah kondisi tanah dinilai cukup stabil, barulah alat berat berukuran lebih besar dikerahkan untuk mempercepat proses penggalian. “Kami tidak bisa gegabah, keselamatan tim juga menjadi prioritas,” kata Mardi.

Pencarian dimulai dari bagian belakang rumah yang tertimbun, karena dinilai paling memungkinkan untuk dievakuasi lebih dulu.

Ia menyebutkan, tim menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia. Korban pertama adalah seorang ibu bernama Hamdana, berusia 50 tahun. Tak lama berselang, korban kedua ditemukan anak laki-lakinya bernama Nasrul, berusia sekitar 24 tahun. Sementara jenazah dua anak lain belum ditemukan. Saat kejadian, kepala keluarga sedang bekerja.

Posisi rumah yang tertimbun longsor. Ada beberapa rumah tertimbun. (Foto : Eko Setyo)

Sementara Menurut Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, proses pencarian dihentikan sementara pada pukul 18.00 WITA karena cuaca yang mulai gelap dan medan yang membahayakan tim.

“Besok pagi pukul 08.00 kami lanjutkan lagi. Saat ini kita pastikan semua peralatan siap dan lokasi tetap aman untuk dilanjutkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suwarso mengungkapkan bahwa selain kontur tanah yang curam dan gembur, kedalaman tanah longsor cukup menyulitkan evakuasi.

Di beberapa titik, proses penggalian tidak bisa menggunakan alat berat karena risiko pergerakan tanah yang bisa berbahaya. Oleh karena itu, tim terpaksa menggali secara manual menggunakan sekop dan cangkul.

Proses evakuasi juga harus dilakukan dengan ekstra hati-hati meskipun korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. “Kami tetap mengutamakan kehormatan korban dan keselamatan tim. Itu prinsip utama dalam setiap operasi SAR,” ujar Suwarso.

Hingga berita ini diturunkan, dua korban telah berhasil ditemukan. Pencarian terhadap  2 korban akan dilanjutkan hari ini (13/5/2025).

BPBD dan Basarnas mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan dan berharap dukungan serta doa dari semua pihak agar proses evakuasi dapat berjalan lancar tanpa korban tambahan. (*)

Pos terkait