Linikaltim.id. SAMARINDA. Tiga sekolah, 1.500 siswa, belajar di lahan kurang setengah hektare. Kondisi miris nan memprihatinkan ini berada di kompleks SMP Negeri 48 Samarinda.
SMP 48 berdiri berdampingan dengan SD Negeri 004 dan SD Negeri 016 Sungai Pinang Dalam. Tiga sekolah itu menampung lebih dari 1.500 siswa di atas lahan kurang dari setengah hektare.
“Bayangkan, tiga sekolah menumpuk di lahan sempit. Ada yang terpaksa belajar sore karena ruangnya tidak cukup. Ini yang kami sebut sekolah kumuh, dan harus segera diurai,” kata Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin diwawancarai di Kantor Disikbud Samarinda, Senin (3/11/2025).
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda berencana mengurai kawasan sekolah yang masuk kategori sekolah kumuh.
Sebagai langkah konkret, Disdikbud bersama Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) tengah meninjau lahan milik pemerintah di sekitar Perumahan Sungai Karang Mumus (SKM). Rencananya akan menjadi lokasi baru untuk SMP Negeri 48. Lahan itu diperkirakan seluas setengah hektare dan akan menjadi prioritas pembangunan tahun 2026.
Namun, SMP 48 bukan satu-satunya sekolah yang mengalami persoalan serupa. Pemkot mencatat masih ada enam hingga tujuh sekolah lain di Samarinda yang berdiri dalam satu kompleks sempit bersama jenjang berbeda, seperti di kawasan Palaran dan Bukit Pinang.
“Beberapa sudah kami urai, tapi masih ada tiga lokasi lagi yang kondisinya sama. Semua akan kami tata secara bertahap, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah,” kata Asli.
Program penataan sekolah kumuh ini diproyeksikan menelan biaya Rp15-40 miliar per lokasi, tergantung tingkat kerusakan dan rancangan bangunan baru.
Pemerintah berharap langkah ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih manusiawi, aman, dan sehat bagi siswa.
“Dengan penataan ini, tidak ada lagi anak-anak yang belajar di ruang sempit dan tidak layak. Kami ingin semua sekolah di Samarinda menjadi tempat yang nyaman untuk tumbuh dan belajar,” tutup Asli Nuryadin. (*)


