Linikaltim.id, SAMARINDA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) menyoroti kurangnya tenaga dokter saat ini.
Anggota DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra mengatakan, masalah tersebut ditambah lagi dengan dokter lebih memilih bertugas di kota ketimbang di pelosok. Sebab fasilitas dan insentif di kota lebih menarik. Baik itu gaji yang lebih tinggi, rumah dinas, hingga peluang pengembangan karier yang lebih moncer.
Dia mendorong pemerintah untuk hadir dan memberikan perhatian lebih mengatasi masalah ini. Terutama untuk memberi pelayanan kesehatan di daerah terpencil.
Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini melihat pentingnya program yang menjamin kesejahteraan dokter agar bersedia bertugas di wilayah terpencil.
“Kalau kesejahteraan tenaga dokter terjamin, fasilitas memadai, akses jalan baik, dan insentif menarik, saya yakin dokter tidak akan ragu bertugas di daerah terpencil. Tetapi, jika tidak diperhatikan, maka ketimpangan akan terus terjadi,” jelasnya pada Senin (18/11/2024) lalu.
“Ini soal piring nasi. Kalau piring nasi mereka (tenaga dokter) tidak disediakan dengan baik, artinya kesejahteraan tidak terjamin. Akibatnya, dokter akan enggan bertugas di daerah yang jauh dari kota,” tuturmya.
Ia menambahkan, solusi menyelesaikan krisis tenaga kesehatan di Kaltim membutuhkan kolaborasi. Antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Hal ini dinilai Andi penting, mengingat status Kaltim sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kita harus segera bertindak. Jangan sampai pelayanan kesehatan masyarakat Kaltim terabaikan akibat kurangnya tenaga medis,” jelasnya.
Pemberian insentif besar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang, berhasil menyebarkan =dokter spesialis untuk bertugas di daerah terpencil di sana. Menurutnya ini dapat menjadi contoh bagi Pemprov Kaltim.
“Langkah seperti yang dilakukan Pemkot Bontang bisa dijadikan contoh. Pemerintah provinsi harus lebih serius memastikan pemerataan tenaga kesehatan di seluruh wilayah Kaltim,” katanya. (adv/dprdkaltim/min)
