Linikaltim.id, SAMARINDA – Bubur peca, menjadi menu tradisi turun temurun yang hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh Masjid Shirathal Mustaqiem, Samarinda Seberang. Hidangan khas ini biasanya disajikan pada bulan suci Ramadan, sebagai menu berbuka bersama.
Sebagai juru masak bubur peca, Mardiana atau yang kerap dikenal Alus ini mengatakan, bubur peca merupakan warisan dari ratusan tahun lalu yang hingga saat ini masih dijaga sebagai tradisi di bulan puasa.
“Bubur peca ini sudah ada 100 tahun,” kata Alus, Kamis (27/3/2025).
Setiap harinya, Alus bersama keenam ibu-ibu lainnya memasak bubur peca sejak pukul 08.00 pagi, agar bisa tepat waktu menyiapkan untuk berbuka bersama di Masjid Shirathal Mustaqiem atau Masjid Tua.
“Satu harinya biasa memasak bubur peca sebanyak 25kg,” ujarnya.
Ia mengaku telah puluhan tahun mengurus sajian bubur peca tersebut, menjamin hidangan itu siap disantap untuk siapapun yang berbuka di Masjid Tua.
Menurut ceritanya, konon bubur peca ini juga dipercaya sebagai obat sakit maag yang menjadi masalah utama bagi orang berpuasa.
“Masyarakat ada yang percaya bubur peca ini sebagai obat sakit maag. Ada juga, bubur peca ini disebut obat panjang umur, karena adanya cuma satu tahun sekali, yaitu di bulan puasa,” kata Alus.
Sebanyak 300 porsi bubur peca yang disajikan untuk berbuka puasa. Tidak hanya dikhususkan pada warga sekitar saja, pendatang pun diperkenankan untuk menyantap buka puasa bersama di Masjid Tua.
“Untuk dana beli bahan-bahan bubur peca itu hasil dari sumbangan masyarakat, dan ada donatur setiap harinya. Bubur peca pun kalau ada yang minta untuk dibawa pulang, insya Allah kita kasih,” bebernya.
Dinamakan bubur peca, didalam bahasa Bugis peca yang memiliki arti lembek. Diketahui, Bubur peca biasanya dihidangkan bersama rebusan telur yang sudah dibumbui berwarna merah, sehingga membuat bubur peca memiliki citarasa yang khas dan tidak memudar meski dimasak dengan jumlah yang banyak.
“Setiap tahunnya justru makin banyak orang (yang berbuka) bukan berkurang. Waktu covid-19 pun kita tetap menyajikan, jadi tidak pernah tidak ada bubur peca ini,” tandasnya.
Usai menyantap bubur peca bersama, masyarakat melanjutkan dengan sholat magrib berjamaah. (Nit)
