Linikaltim.id. SAMARINDA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda belum berjalan sepenuhnya optimal. Dari total kebutuhan 73 dapur umum, baru 13 yang beroperasi.
Sorotan publik semakin tajam usai laporan makanan yang diterima siswa di SMA 13 di Kecamatan Sungai Pinang dalam keadaan basi.
Ketua Tim Satgas Percepatan MBG Samarinda, Suwarso, menegaskan pihaknya segera turun tangan begitu kabar itu tersebar. Ia menyebut, evaluasi dilakukan bersama Puskesmas dan tim pengawas Badan Gizi Nasional (BGN) provinsi untuk menelusuri penyebabnya.
“Sudah jelas disampaikan, makanan harus sampai ke anak-anak maksimal lima jam setelah dimasak. Itu harus dipatuhi. Kalau prosedurnya dijalankan dengan benar, seharusnya tidak terjadi makanan basi,” ujar Suwarso Rabu (17/9/2025).
Ia mengungkapkan, dugaan sementara penyebab makanan cepat basi adalah kesalahan pada proses pengemasan.
Plt Asisten I Setda Samarinda itu juga menambahkan, dua hari sebelum kejadian, seluruh vendor dan ahli gizi sudah dikumpulkan untuk menerima arahan teknis terkait standar kualitas bahan, cara pengemasan, hingga distribusi.
“Satgas tidak menutup mata. Kami tekankan, dapur umum jangan sampai punya motif bisnis. Program ini investasi negara untuk anak-anak. Harus serius menyiapkan makanan bergizi sesuai standar,” tegasnya.
DOKUMENTASI JANGAN HOAKS
Suwarso juga memastikan tidak ada larangan bagi masyarakat maupun media untuk mendokumentasikan kondisi makanan. Hanya saja, ia mengingatkan agar informasi yang beredar tetap diverifikasi.
“Pernah ada foto hoaks yang isinya diedit sehingga lauk terlihat mengecil. Makanya setiap laporan tetap kami crosscheck agar akurat,” tambahnya.
Ke depan, Satgas menyiapkan sistem layanan agar masyarakat dapat menyampaikan masukan langsung.
“Harapannya, makanan yang sampai ke siswa tetap segar, sesuai standar, dan benar-benar meningkatkan selera makan anak-anak”, pungkasnya. (*)
