Maswedi Evaluasi Soal Pembuangan Sampah di Wilayah Konstitusinya

Kondisi tempat pembuangan sampah tanpa bak atau kontainer di daerah Bayur. Selain terlihat kumuh, bau sampah menyebar. (Foto : Eko Setyo).

Linikaltim.id. SAMARINDA. Persoalan sampah di aliran Sungai Karang Mumus menjadi sorotan Maswedi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda.

Politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) itu mengamati, masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Terutama warga di konstituennya di kawasan Lempake dan Bendungan Benanga, Samarinda Utara.

Bacaan Lainnya

Maswedi menyampaikan keprihatinannya terhadap kebiasaan warga yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Ia mengingatkan bahwa tindakan tersebut tidak hanya merusak lingkungan. Tapi juga berdampak ke kehidupan masyarakat. 

“Kami imbau kepada masyarakat yang belum mampu mengelola sampah secara mandiri agar membuangnya ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang tersedia, bukan ke sungai. Kita harus menjaga lingkungan bersama, apalagi sungai itu juga menjadi sumber kehidupan dan aktivitas warga,” kata Maswedi, ditemui di Kantor DPRD Samarinda, Kamis (19/06/2025).

Maswedi mengatakan, beberapa wilayah seperti daerah Korem Lempake dan Pinang Seribu yang masuk dalam kelurahan Sempaja Utara memang sudah memiliki TPS. Namun jaraknya cukup jauh dari daerah padat penduduk.

Kondisi ini dinilai Maswedi menjadi salah satu alasan masih ada masyarakat yang lebih memilih membuang sampah ke sungai.

Untuk itu, Maswedi mendorong adanya evaluasi pembangunan lokasi TPS. Dia mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda agar menempatkan atau memilih TPS baru di kawasan strategis.

“Jika memang jaraknya terlalu jauh, kami akan coba koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar ada solusi konkret. Salah satunya dengan menambah titik TPS di sekitar Lempake khusunya daerah Muang,” jelasnya.

Maswedi menyadari, soal penentuan penempatan TPS merupakan kewenangan kelurahan. Sedangkan DLH hanya bertugas mengangkut sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Namun dia berharap hal itu bukan menjadi kendala. Tetapi bisa menjadi celah untuk bersinergi antara kelurahan dan DLH. Sehingga kebijakan soal penanganan sampah dapat berjalan efektif.

“Kami siap memfasilitasi koordinasi ini. Kalau volume sampah memang cukup besar dan TPS belum tersedia, harus segera dibangun. Tapi kalau masih bisa ditangani TPS yang ada, perlu dioptimalkan dulu pengelolaannya,” tambahnya.

Maswedi berharap agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat.

“Sungai bukan tempat sampah. Mari kita jaga bersama, karena lingkungan bersih adalah tanggung jawab kita semua,” tutupnya. (adv)

Pos terkait