Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki.
Ini karena perempuan mengalami hilangnya darah saat menstruasi (haid).
Anemia pada remaja bisa menyebabkan penurunan imunitas, konsentrasi, dan kebugaran. Sehingga berujung pada prestasi maupun produktivitas remaja.
Mengutip tulisan dari Juniary Arum Only, nutrisionis dari Rumah Sakit Samarinda Medika Citra (RS SMC), secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak serius. Yaitu memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi prematur, juga berat badan lahir rendah (BBLR).
Anemia bisa, kata Juniary, bisa dihindari dengan konsumsi makanan yang bergizi. Makanan yang kaya vitamin serta mineral. Baik itu vitamin A, C, asam folat dan zink.
Kekurangan vitamin A dapat menghambat tubuh memproduksi sel darah merah. Ini terjadi karena tubuh yang kekurangan vitamin A tidak mampu menyerap zat besi dengan sempurna, sehingga memengaruhi pembentukan hemoglobin.
Makanan mengandung vitamin A terdapat pada sayur berwarna cerah, jeroan, dan telur ayam. Namun, catatan untuk konsumsi jeroan, perlu diperhatikan pengolahannya dan jumlahnya untuk menghindari kolesterol dalam darah.
Asam folat banyak ditemukan pada jenis sayuran hijau dan kacang-kacangan, seperti brokoli, bayam, kacang polong, dan kacang merah. Untuk memperoleh nutrisinya optimal, disarankan untuk memasak dengan cara dikukus atau ditumis.
Juniary menuliskan, ada kondisi tertentu mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) bisa juga membantu zat besi dan asam folat.
Dia merinci empat pilar gizi seimbang untuk menghindari anemia.
Yaitu mengonsumsi aneka ragam pangan. Membiasakan perilaku hidup bersih. Melakukan aktivitas fisik. Memantau berat badan secara teratur.
“Hidup sehat dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya.
