Ini Alasan Mengapa Judol Bikin Candu

Judi online membuat kecanduan pemainnya. Untuk seseorang yang mengalami tingkat adiksi tinggi perlu penanganan secara psikologi. (Foto ilustrasi oleh Yahya).

Linikaltim.id. SAMARINDA. Kecanduan bermain judi online (judol) sudah terbukti kerap menghancurkan masa depan seseorang. Lantas mengapa masih banyak orang tidak melepas kebiasaan buruk judol?

Menurut psikolog Ayunda Ramadhani, judol memang sengaja dirancang untuk membuat pemain ketagihan.

Bacaan Lainnya

Efeknya tak main-main ; adiksi tingkat timggi. Seseorang dibuat penasaran dengan sebuah keberuntungan besar. Hingga secara psikologi lupa akan perbandingan menang dan kalahnya.

“Biasanya di awal pemain akan menang. Rasa senang itu memicu mereka mempertaruhkan lebih banyak,” ujarnya, saat di hubungi via telepon Senin (8/9/2025).

Rasa senang itu membuat pelepasan hormon dopamin meningkat. Dopamin sendiri merupakan hormon yang erat kaitannya dengan penghargaan diri.

Kesenangan dari sekali menang itu, mendorong seseorang untuk mencoba lagi. Dopamin juga bekerja memotivasi diri seseorang untuk mencoba hal tersebut karena mendapat suasana hati tertentu.

Rasa penasaran itu lah yang membuat pemain sulit berhenti. Jika dibiarkan, akan menjadi adiksi.

“Efeknya bukan hanya kehilangan uang, tapi juga bisa memicu konflik rumah tangga, bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” beber Ketua Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi (IPK HIMPSI) Kalimantan Timur (Kaltim) ini.

Ayunda menyebut, banyak orang menjadikan judol sebagai pelarian dari stres atau tekanan ekonomi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kerugian finansial membuat masalah makin menumpuk.

KENALI CIRI ADIKSI

Gejala kecanduan judol dapat dikenali dari perubahan perilaku sehari-hari. Misalnya, begadang demi memantau permainan. Abai terhadap pasangan dan anak, mudah tersulut emosi, hingga sering berutang demi judol.

“Kalau sudah mulai kehilangan uang secara tidak wajar atau sering pinjam uang, itu alarm,” tegasnya.

Sebagai langkah penanganan, Ayunda menyarankan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dukungan penuh keluarga, pengelolaan keuangan, serta tindakan hukum jika ada intimidasi dari pihak penyelenggara

Untuk pencegahan, ia menilai penting adanya literasi digital, parental control bagi anak, serta edukasi publik.

“Kalau ingin punya uang banyak, ya kerja keras. Tidak ada jalan pintas kecuali kita pewaris,” tutupnya. (*)

Pos terkait