Linikaltim.id. SAMARINDA. Unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kalimantan Timur Menggugat (MAHAKAM) bersala elemen masyarakat di depan Gedung DPR Kaltim di Jalan Teuku Umar, Karamg Paci pada Senin (1/9/2025) tergolong aman.
Massa aksi yang diperkirakan 2.000 orang memadati kawasan strategis tersebut. Membawa semangat perlawanan terhadap ketimpangan kebijakan dan maraknya praktik korupsi yang dianggap telah menggerus hak-hak rakyat.
Koordinator aksi, Renaldi Saputra, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam masyarakat terhadap tumpang tindih kebijakan pemerintah dan lemahnya komitmen terhadap reformasi hukum, demokrasi, dan keadilan sosial.
Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud, Wakil Ketua DPRD Ekti Imanuel dan sejumlah anggota dewan lainnya sempat menemui massa.
Hasanuddin Mas’ud sendiri mengaku siap mengawal sebelas tuntutan yang diminta.
Massa juga menyuarakan perlawanan terhadap pemutihan dosa pemerintah. Berupa praktik regulasi yang dinilai memutihkan pelanggaran masa lalu tanpa tanggung jawab hukum.
Seruan untuk mencabut undang-undang yang tidak berpihak kepada rakyat menggema bersamaan dengan tuntutan penghentian tindakan represif terhadap gerakan rakyat.
Sorotan tajam juga diarahkan pada dominasi oligarki politik yang menurut massa telah mencederai demokrasi Indonesia. Mereka menolak demokrasi palsu yang hanya melayani kepentingan elite. Aliansi MAHAKAM mendesak agar supremasi hukum ditegakkan secara adil dan tidak tebang pilih.
Selain isu politik, massa juga menyoroti isu lingkungan. Mereka menuntut dihentikannya kejahatan ekologis dan praktik pertambangan yang merusak ruang hidup masyarakat.
KORBAN DUA ANGGOTA
Sementara itu Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar mengatakan, sesuai arahan dari Polda Kaltim, pembubaran massa dilakukan. Meski agak sedikit alot untuk memulangkan massa dari sisi sebelah timur. Butuh sekitar satu jam lebih sepuluh menit untuk memundurkan massa.
Untuk korban, Hendri mengatakan, dua anggota kepolisian dilarikan ke Rumah Sakit Hermina. Satu tak sadarkan diri, dan satu lagi terkena lemparan.
Namun secara garis besar, Hendri menyampaikan situasi aman terkendali.
GAS AIR MATA
Kepolisian menyemburkan air menggunakan water cannon jelang magrib. Untuk memecah massa, gas air mata juga ditembakkan. Warga sempat marah sebab tembakan gas air mata dirasa tanpa perhitungan. Tak hanya massa aksi, warga dan para pedagang asongan kena imbas.
Beberapa orang dilarikan ke rumah sakit akibat sesak napas dan tak sadarkan diri.
Aksi ini tergolong terkendali. Baik massa aksi maupun kepolisian mampu menjaga ritme dan tensi, hingga bubar sekitar pukul 20.10 WITA.(*)






