Linikaltim.id. SAMARINDA. Kondisi fiskal Kota Samarinda pada 2026 diperkirakan masih mengalami pergerakan yang cukup dinamis akibat pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) yang akan diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia.
Nilai sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berada di kisaran Rp3,2 triliun belum dapat dijadikan acuan final.
Angka tersebut sewaktu-waktu bisa berubah, baik meningkat maupun menurun, bergantung pada perkembangan ekonomi nasional maupun kebijakan pemerintah pusat.
“Fluktuasi fiskal tersebut berdampak langsung terhadap perencanaan pembangunan di Samarinda,” kata Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Kamaruddin, pekan lalu.
Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu menetapkan skala prioritas secara lebih ketat agar program strategis tetap berjalan.
Soal pemangkasan, politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu mengakui jelas berpengaruh pada kemampuan belanja daerah.
Untuk mengantisipasi dinamika tersebut, Kamaruddin berpendapat, setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah semestinya menyiapkan langkah efisiensi.
Penyesuaian anggaran diperkirakan akan menyentuh kegiatan yang tidak mendesak, mulai dari pengurangan perjalanan dinas hingga penghematan pada program pelatihan aparatur.
“Termasuk perjalanan dinas dan pelatihan-pelatihan, pasti ada penyesuaian,” jelasnya.
Meski begitu, Kamaruddin berharap kebijakan efisiensi tidak mengganggu pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia menilai belanja strategis harus tetap dijaga agar proyek prioritas dapat tetap terlaksana meskipun kondisi fiskal tengah bergerak fluktuatif. (adv/dprdsmr)




