Linikaltim.id, SANGATTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang berlokasi di Desa Citra Manunggal, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah dilirik sejumlah investor asing. Salah satunya dari China.
Rencananya, PT Anhui Guangxin Agrichemical, perusahaan investor dari China yang akan memproduksi pupuk kimia di kawasan strategis tersebut. Sedangkan bahan baku akan dikirim dari PT Pupuk Kaltim (PKT) di Kota Bontang.
Besaran investasi PT Anhui Guangxin Agrichemical di KEK MBTK diproyeksikan mencapai Rp 14 triliun.
Dengan angka yang fantastis tersebut, perusahaan asal China itu bisa menjadi salah satu penanam modal dengan nilai investasi terbesar di KEK.
Bahkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Kutim, Darsafani, memastikan proses negosiasi terkait investasi perusaahaan asal Tiongkok itu terus berjalan.
Lewat negosiasi yang sedang berlangsung, Pemkab Kutim berharap keputusan akhir dapat segera tercapai. Sebab ini akan mengoptimalkan potensi KEK MBTK sebagai pusat ekonomi strategis di wilayah Kalimantan Timur.
Darsafani optimistis, keberadaan perusahaan Negeri Bambu itu akan berdampak positif. Terutama terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dalam sektor industri berbasis kimia.
“KEK MBTK memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian Kutim dan sekitarnya,” ucapnya.
Ia berharap, hadirnya investor asing ini juga membuka lapangan kerja. Sehingga roda perekonomian semakin bergerak laju.
Saat ini, Pemkab Kutim dan PT Anhui Guangxin Agrichemical masih fokus membahas masalah penyesuaian harga sewa lahan.
Pihak Pemkab Kutim sendiri telah menetapkan harga sewa lahan di KEK MBTK sebesar Rp 1.750 per meter persegi. Kendalanya, perusahaan menawar terlalu rendah. Dengan sewa senilai Rp 600 per meter persegi.
Padahal, kata Darsafani, harga sewa lahan KEK MBTK sudah termasuk paling murah di Indonesia.
“Kami masih menahan penawaran tersebut dan berupaya mencapai kesepahaman,” katanya.
Pemkab Kutim sempat menurunkan tawaran harga sewa lahan di Rp 1.300 per meter persegi. Sedangkan PT Anhui Guangxin Agrichemical mau di harga Rp 1.100 per meter persegi.
“Terakhir, penawaran mereka sudah naik. Tetapi kami masih bertahan di angka Rp 1.300 per meter persegi,” ujar Darsafani. Dia berharap segera ada titik temu. Sehingga investasi bisa terealisasi. (adv/diskominfokutim/min)






