Menantu Adalah Maut, Sewa Pembunuh Bayaran tapi Gagal Menghabisi

SUDAH DIRENCANAKAN: Dua pelaku pembunuhan berencana yang melibatkan menantu dari korban dibeberkan ke awak media.

Linikaltim.id SAMARINDA. Wiyono (83) ditemukan berlumuran darah yang mengucur dari kepala. Di rumahnya di Jalan Biawan, Gang 10, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir, Senin (27/5/2024), penganiayaan itu terungkap karena hendak menguasai harta korban. 

Solihin (39), menantu Wiyono adalah dalang di balik kejadian tersebut. Dia menyewa jasa pembunuh bayaran yang merupakan rekannya sendiri, yakni Iwan Setiadi (32). Solihin sakit hati lantaran kerap dituduh mencuri dan mengonsumsi narkoba. 

Bacaan Lainnya

Sang menantu sebelumnya sudah merencanakan pembunuhan bersama Iwan sejak Kamis (23/5/2024). “Jadi Iwan adalah eksekutor, yang merancang keduanya. Di pertemuan awal Solihin curhat, dan disarankan oleh Iwan untuk membunuh korban. Eksekutor bilang ke menantu korban, ‘bunuh saja bro’,” ucap Kapolresta Samarinda Komisaris Besar (Kombes) Pol Ary Fadli.

Solihin menjanjikan upah untuk menghabisi Wiyanto sebesar Rp 15 juta. Sehari sebelum eksekusi, Iwan datang ke kediaman korban. Sempat ngobrol dan menginap di rumah Wiyono. Menyebut teman baik Solihin. Namun, sore itu, anak Solihin sempat berkunjung ke rumah kakeknya. “Antara eksekutor, korban dan cucunya juga ngobrol,” jelas Ary. Agar tak menaruh curiga, Iwan ikut keluar ketika cucu korban pulang. Namun, itu agar cucunya tidak curiga. Pelaku menumpang sampai ke pinggir jalan. Tapi Iwan kembali ke rumah korban,” tambah Ary. 

Menginap di kediaman korban, Iwan berusaha menghabisi nyawa Wiyono pada Senin (27/5) siang. Besi yang didapatnya  digunakan untuk memukul tengkuk korban. Dua kali besi sepanjang 50 sentimeter itu diarahkan ke korban hingga tersungkur. Iwan juga melayangkan enam pukulan ke wajah Wiyono. Tidak lagi bergerak, pelaku meninggalkan korban. “Jadi ini menepis kabar kalau penganiayaan itu bukan dilakukan musala. Mengumpulkan keterangan saksi dan bukti lainnya, pemukulan merupakan rencana pembunuhan,” tegas Ary. 

Iwan yang kabur berpindah-pindah. Guna menghilangkan jejak pengejaran polisi. Dia sempat kabur ke Loa Duri, Kutai Kartanegara. Eksekutor sempat menggelapkan motor, kemudian uangnya digunakan untuk kabur ke Palembang. Sepekan setelah kabur dari Palembang. Dia kembali untuk menagih pembayaran. Namun, keburu diringkus Polsek Sungai Pinang. 

Di Polresta Samarinda, Solihin mengaku dirinya sakit hati dengan Wiyono. “Enggak dianggap kaya anak sendiri, kemudian saya dan istri diusir dari rumah mertua saya (kediaman korban) setelah istri saya kecelakaan. Beberapa tahun memang satu rumah sama beliau, ngerawat mertua yang perempuan dulu sakit stroke, jadi istri saya juga mau merawat. Karena anak-anaknya yang lain enggak ada yang mau. Dari situ saya sakit hati dan berniat membunuh,” bebernya. 

Dia juga kenal dengan Iwan di Pasar Segiri dari lama. “Sama-sama kerja buruh di sana. Setelah diusir, saya tinggal di rumah orangtua di Kampung Jawa (Kecamatan Samarinda Ulu),” imbuhnya. Dirinya sempat dijanjikan bakal menerima warisan rumah itu (kediaman korban). Maksud menghabisi nyawa mertua saya karena itu, ingin menguasai harta warisan itu,” sambung Solihin. (redaksi)

Pos terkait