Linikaltim.id.SAMARINDA. Kabar tentang Samarinda dan Balikpapan menjadi kota dengan tingkat partisipasi pemilihan umum (pemilu) rendah masih hangat diperbincangkan.
Pasalnya, dua kota ini merupakan kota paling maju dibanding kota lain di Kalimantan Timur (Kaltim) maupun Utara.
Tapi malah, Mahakam Ulu (Mahulu) yang ‘anak bawang’, justru persentase partisipasi masyarakatnua tinggi.
KPU Kaltim mencatat 69,18 persen partisipasi pemilih dari target 77 persen. Partisipasi masyarakat Samarinda tercatat 59,7 persen, Balikpapan 60,5 persen. Sementara Mahulu 80,6 persen.
Untuk Samarinda Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Samri Shaputra menanggapi hal ini dengan beberapa sudut pandang.
Dia membeberkan beberapa hal ini usai menuntaskan rangkaian ziarah Hari Jadi ke-357 Samarinda di makam La Mohang Daeng Mangkona, Jumat (24/1/2025).
Menurutnya, Samarinda ditinggali masyarakat yang majemuk. Bisa jadi ini menjadi faktor penyebab rendahnya tingkat partisipasi pemilih pemilu. “Rasa kepeduliannya jadi kurang. (Pemilu) bukan urusan saya. Saya sibuk cari uang, dan lain sebagainya,” katanya mencontohkan.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menyayangkan, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam pemilu.
Masyarakat cenderung cuek dan tidak memahami arti pentingnya memilih pemimpin. “Masyarakat baru komentar macam-macam ketika ada pemimpin yang tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Dia juga berpendapat agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa meningkatkan program yang mampu menambah persentase partisipasi masyarakat. Baik itu sosialisasi maupun edukasi kepada masyarakat. Mengingat, anggaran dana untuk hal itu ada.
Meski partisipasi pemilihan kepala daerah (pilkada) rendah, Samri menilai Samarinda sukses dalam pemilu. Dia mengatakan, bisa dilihat dari kondusivitas di Samarinda.
Meskipun masyarakatnya beragam, pemilu berjalan damai dan mulus tanpa konflik. Ini sudah terbilang bagus untuk penyelenggaraan pemilu. Dibanding daerah lain yang bisa sampai pecah konflik. (*)






