Linikaltim.id SAMARINDA. Massa dari Mahasiswa Kalimantan Timur Bergerak (Makara) kembali menggeruduk kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim. Aksi tersebut merupakan bentuk pengawalan detik-detik jelang tahapan pendaftaran calon kepala daerah yang dimulai sejak Selasa hingga Kamis (27–28/8/2024).
Ratusan mahasiswa itu menyampaikan aspirasinya secara bergantian dari masing-masing perwakilan organisasi.
Namun, salah satu mahasiswa berbaju cokelat mengenakan kopiah berkelir hijau-hitam masuk dengan area halaman kantor DPRD Kaltim dengan cara memanjat. Setelah masuk, mahasiswa tersebut didorong, kemudian pemukulan oknum polisi mengenakan seragam. Aksi itu sempat terekam dan beredar di media sosial baik WhatsApp dan Instagram.
Salah satu akun yakni @aksikamisankaltim mengunggah postingan tersebut dan banjir komentar netizen.
Korban pemukulan itu adalah Syahril Saili, merupakan ketua umum HMI Cabang Samarinda. Dia mengatakan, niat awalnya berkomunikasi dan meminta izin agar bisa menjalankan salat. Namun, izin tersebut justru tak disambut baik.
“Saya mau ibadah (salat) di dalam kantor DPRD Kaltim. Saya memanggil sebagian teman supaya ibadah di dalam, tapi baru mendekat polisi langsung dorong dan pukul,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Kapolresta Samarinda Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Ary Fadli menyebut, aksi unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD pengamanannya berjalan baik.
“Tadi sudah disampaikan silakan untuk menyampaikan orasi, tapi setelah itu masih tidak mau membubarkan diri. Karena sudah melewati jam ketentuan aturan penyampaian pendapat di muka umum (pukul 18.00), selain itu mengganggu lalu lintas kendaraan baik di Jalan Tengkawang dan Teuku Umar, pihaknya harus mendorong mundur agar massa membubarkan diri,” ungkap Ary.
Menurutnya, masyarakat terganggu. “Kami sudah mengimbau, tadi juga teman-teman lihat sendiri beberapa kali imbauan malah dibalas dengan lemparan. Ya mau tidak mau harus mendorong mundur dan membubarkan. Dilakukan secara humanis dan persuasif, makanya bisa dilihat ada jarak antara kami dengan mahasiswa dan membubarkan dengan water canon,” tambahnya.
Sebanyak 800 personel, melibatkan Samapta Polda Kaltim dan Polres Kukar. “Ada beberapa lemparan mengenai anggota (polisi) dan pegawai DPRD. Kalau pun ada yang diamankan semua akan dipulangkan,” tegasnya.
Terkait pemukulan yang menimpa salah satu mahasiswa, Ary menegaskan pihaknya tengah mencari anggota yang dimaksud melakukan pemukulan. “Sedang dicari anggotanya, dan tentunya kalau ada kesalahan, baik salah prosedur, kami akan proses prosedur tersebut. Mudahan bisa ditemukan dan langsung proses,” tandasnya. (dra)






