Linikaltim.id. SAMARINDA. Lubang bekas tambang batubara di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menelan korban. Adalah Mustofa (38 tahun), warga Jalan Giri Mukti, Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, tewas tenggelam di lubang bekas tambang milik Koperasi Putra Mahakam Mandiri (KSU PUMMA), Kamis (12/9/2025).
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim mengatakan, peristiwa tersebut menambah daftar panjang korban jiwa akibat eks-kaveling tambang. Mereka mencatat, sudah 55 orang tewas sejak 2011 di lubang-lubang bekas tambang. Mirisnnya, 27 korban di antaranya merupakan kasus dengan lokasi lubang tambang di kawasan Samarinda.
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Anhar, menegaskan bahwa persoalan lubang tambang yang dibiarkan menganga tanpa pengamanan adalah bentuk nyata kelalaian perusahaan pemegang konsesi.
Menurutnya, perusahaan tambang seharusnya memiliki tanggung jawab penuh untuk menutup, memberi pengamanan, serta pemasangan rambu peringatan di lokasi-lokasi berbahaya.
“Tanggung jawabnya pemilik konsesi itu jelas. Mereka harus mengantisipasi dengan memasang rambu-rambu, ada pengawasan khusus, supaya tidak terjadi hal serupa. Tapi faktanya, pengawasan ini sangat lemah. Kasus seperti ini bukan pertama kali, tapi sudah berulang kali terjadi,” tegas Anhar, Senin (15/9/2025)
Dia menambahkan, sejak lama pemerintah pusat telah menetapkan bahwa pada 2026 mendatang tidak ada lagi izin tambang yang boleh diperpanjang. Namun, menurutnya, masalah besar justru terletak pada bekas galian tambang yang tidak pernah diselesaikan.
“Persoalan utama bukan hanya soal izin, tapi lubang-lubang yang ditinggalkan ini. Dari dulu sudah dibilang jangan sampai ada korban lagi, tapi nyatanya masih terus terjadi,” ujarnya.
Anhar pun mendesak agar pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas. Tidak hanya menutup lubang tambang yang ditinggalkan, tetapi juga menindak perusahaan yang lalai terhadap kewajiban reklamasi dan pengamanan area bekas galian.
“Pemilik konsesi ini terkesan tidak punya tanggung jawab. Lubang-lubang itu dibiarkan begitu saja hingga menelan korban. Kalau tidak ada tindakan nyata, saya khawatir angka korban akan terus bertambah,” tutup politisi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) ini. (adv/dprdsmr)






