Lomba Desa Berkinerja Baik Digelar, DPMD Kukar Dorong Penanganan Stunting dari Akar Rumput

TURUNKAN STUNTING: Lomba Desa Berkinerja Baik dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting. (Dok. DPMD Kukar)
TURUNKAN STUNTING: Lomba Desa Berkinerja Baik dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting. (Dok. DPMD Kukar)

Linikaltim.id KUTAI KARTANEGARAStunting bukan sekadar persoalan gizi, melainkan persoalan masa depan generasi. Kesadaran itu yang mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar Lomba Desa Berkinerja Baik, dalam upaya percepatan penurunan stunting, yang dilaksanakan Kamis (3/7/2025) di Kantor DPMD Kukar.

Kegiatan itu menjadi wadah evaluasi sekaligus motivasi agar desa-desa di Kukar lebih serius dalam mengintervensi masalah stunting secara menyeluruh, mulai aspek perencanaan anggaran hingga pelaksanaan di lapangan.

Bacaan Lainnya

Kepala DPMD Kukar Arianto menegaskan, desa memiliki peran strategis dalam upaya percepatan penurunan stunting karena kedekatannya langsung dengan masyarakat, dan keleluasaan dalam mengelola anggaran desa. “Penanganan stunting bukan hanya tugas pusat atau provinsi. Peran desa sangat krusial, karena mereka yang paling dekat dengan warga. Melalui ADD dan Dana Desa, mereka punya ruang untuk mengalokasikan anggaran yang tepat sasaran,” ujarnya, Rabu (9/7/2025).

Dia menjelaskan, hampir seluruh desa di Kukar telah menganggarkan program penanganan stunting, namun besarnya perhatian dan kualitas pelaksanaan menjadi pembeda. “Ada desa yang menaruh perhatian lebih dengan mengalokasikan porsi anggaran cukup besar dan program yang lebih konkret. Itu menjadi indikator bahwa desa tersebut benar-benar peduli dan memahami pentingnya penanganan stunting sejak dini,” jelasnya.

Dalam lomba tersebut, penilaian tidak hanya menyoroti besaran anggaran, tetapi juga kualitas program, efektivitas pelaksanaan, dan dampak langsung di masyarakat. Desa yang dinilai berkinerja baik adalah mereka yang berhasil menerjemahkan pemahaman teknis menjadi aksi nyata.

“Semakin tinggi pemahaman, semakin besar komitmennya. Itu terlihat dari beragam kegiatan yang mereka inisiasi, seperti pemberian makanan tambahan, edukasi ibu hamil, hingga pemantauan tumbuh kembang balita,” lanjut Arianto.

Keberhasilan menurunkan stunting bukan diukur dari administrasi belaka, melainkan hasil nyata di lapangan. Karena itu, desa harus fokus pada pemanfaatan dana yang benar-benar menjawab kebutuhan warganya. “Jadi bukan hanya tentang anggaran yang ada di atas kertas, tetapi bagaimana dana itu benar-benar digunakan untuk menjawab kebutuhan lapangan,” tegasnya.

Ke depan, DPMD Kukar berharap kegiatan seperti itu bisa menjadi pemicu agar desa-desa lainnya semakin termotivasi, tidak hanya menjalankan program secara administratif, tetapi juga berorientasi pada capaian yang berdampak langsung.

“Kalau semua desa serius, Kukar bisa menjadi contoh daerah yang mampu menurunkan stunting melalui kekuatan desa. Itu harapan besar kita,” pungkas Arianto. (Adv/DPMD Kukar)

Pos terkait