Linikaltim.id. MUARAWIS –Program Terang Kampungku resmi tuntas pada tahun 2025 dan menjadi tonggak penting pemerataan pembangunan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Seluruh desa kini telah teraliri listrik 24 jam, termasuk wilayah terpencil dan perairan yang selama ini hidup dalam keterbatasan energi.
Program yang diinisiasi melalui RPJMD Kukar Idaman 2021–2026 itu berhasil mewujudkan mimpi besar menghadirkan akses listrik merata bagi seluruh masyarakat desa. Salah satu desa yang merasakan perubahan paling signifikan adalah Desa Muara Enggelam di Kecamatan Muara Wis, yang dahulu hanya mengandalkan genset beroperasi malam hari.
Transformasi besar terjadi setelah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal berkapasitas 50 kWp resmi beroperasi. Kapasitas ini meningkat dari sebelumnya 30 kWp melalui dukungan anggaran senilai Rp4,8 miliar, dan kini dikelola oleh BUMDes Bersinar Desaku.
Kepala Desa Muara Enggelam, Madi, menyebut hadirnya PLTS membawa perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Sekarang listrik menyala 24 jam penuh. Warga tidak perlu lagi membeli bensin untuk genset, dan tegangan juga stabil. Kehadiran PLTS membuat aktivitas warga jauh lebih nyaman,” ujarnya.
Dampak penerangan ini langsung dirasakan. Selain meningkatkan kenyamanan rumah tangga, aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh pesat. UMKM rumahan, pengrajin lokal, hingga usaha jasa mulai bermunculan karena akses listrik kini tersedia sepanjang hari.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, menegaskan bahwa secara administratif seluruh desa di Kukar sudah terjangkau program Terang Kampungku.
“Realisasi Terang Kampungku di semua desa dan kelurahan sudah tuntas. Namun di lapangan masih ada beberapa dusun dan RT yang belum sepenuhnya teraliri listrik, dan itu sedang kami selesaikan,” katanya.
Dua desa di Kecamatan Kenohan Lamin Pulut dan Lamin Telihan saat ini dalam tahap penyambungan jaringan listrik PLN. Proyek itu ditargetkan selesai pada awal 2026.
Arianto mengakui, penyelesaian program tidak lepas dari tantangan berat. Akses geografis ekstrem menjadi hambatan utama, terutama untuk desa di tengah danau atau wilayah perbukitan. Karena itu selain jaringan PLN, PLTS digunakan untuk menjangkau wilayah yang sulit ditembus distribusi material.
“Kami ingin memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal. Kalau ada masyarakat yang belum mendapat listrik, itu tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ke depan, DPMD Kukar tetap melakukan pendataan kebutuhan listrik untuk meningkatkan kapasitas di desa yang belum optimal. PLTS di beberapa wilayah, termasuk Desa Sepatin, diusulkan memperoleh penambahan daya. “Perangkat desa juga harus memastikan perawatan fasilitas agar manfaatnya dirasakan jangka panjang,” tambah Arianto.
Program Terang Kampungku kini menjadi simbol kemajuan dan pemerataan pembangunan di Kukar memastikan bahwa cahaya, sebagai kebutuhan dasar masyarakat modern, hadir bukan hanya di kota, tetapi hingga ke desa dan wilayah paling terpencil. (Adv/DPMD Kukar)






